plagiat indonesia

Pada kenyataannya, D’Masiv telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam bidang musik. Meniru konsep dari lagu yang sudah ada, baik itu ketukan drum, petikan gitar,dan yang lainnya. Yang kemudian di aransemen kembali agar tidak terdengar sama dengan lagu yang sudah ada, dan di beri lirik penuh cinta yang kian dapat membuat masyarakat terlena.
Berikut adalah beberapa lagu yang ditiru konsep musiknya oleh D’Masiv :
1. Cinta Ini Membunuhku = I Don’t Love You – My Chemical Romance
2. Diam Tanpa Kata = Awakening – Switchfoot
3. Dan Kamu = Head Over Heels (in This Life) – Switchfoot
4. Cinta Sampai Disini = Into The Sun – Lifehouse
5. Sebelah Mata = The Take Over, The Break’s Over – Fall Out Boy
6. Dilemma = Soldier’s Poem – Muse
7. Tak Pernah Rela = Is It Any Wonder – Keane
8. Lukaku = Drive – Incubus
Silahkan kalian dengarkan dan bandingkan….

nb: repost dri hai-online, skedar info aja kok
====================================================================================
hmm gw dapet info lagi nih bro klo lagunya si gita gutawa yg doo be doo jga udah ada yg nyamain lagu barat juga judulnya “doo bee doo” juga artisnya yg bawain tuh “freshly ground”, trus lagunya ahmad dhani yg “jika surga dan neraka tak pernah ada” sama kyk lagunya “stephen simmonds & Lisa Nilsson” judulnya “Tears never Dry” sama lagunya yang Munajat cinta sama kyk lagu instrumental judulnya “State of Grace”

sumber : dari berbagai macam sumber ^^
====================================================================================
kaawand2 saya dapet info lagi nih :

Beberapa alasan bagaimana suatu penyanyi / band bisa dikatakan plagiat

1. Memang Plagiat!!!
Beberapa lagu, terutama lagu DANGDUT pada kenyataannya tanpa etika sama sekali memang asal mencomot lagu orang, lalu mengakui lagu tersebut sebagai karya cipta sendiri. Berikut beberapa lagu yang jelas-jelas menggunakan lebih dari 8 bar, bahkan hingga keseluruhan melodi lagu orang lain:
– Eet Sangra (Bola, kalo ndak salah) => The Cranberries (Zombie)
– Fahmi Shahab (Kopi Dangdut) => Julio Iglesias (Moliendo Café)
– Lagu Bang Tajib, eh Bang Toyib => Lagu Yaa Thoyyibah (?)
– Lagu Kumbang-Kumbang => Lagu Salaamin Bahil (?)

Selain itu, lagu-lagu Oldies juga sering jadi korban “modifikasi”. Bahkan terkadang cara menyanyinya pun dibikin semirip mungkin…

- Fauzi & Fauzan (Mimpi) => The Everly Brothers (Dreams)
– Titiek & Muchsin (Hatimu Hatiku) => Suzy Bogguss (Somewhere Between)
– Mus Mujiono (Gengsi Dong) => KC & The Sunshine Band (Baby Give It Up)
Dan tahukah anda, kalau lagu kebangsaan Indonesia Raya, menurut Remy Silado, salah seorang juri FFI, itu menjiplak lagu berjudul Leka Leka Pinda Pinda, sementara lagu Ibu Pertiwi adalah contekan dari sebuah lagu rohani. Selain itu seingat saya, saya pernah mendengar lagu yang mirip Dari Sabang Sampai Merauke dinyanyikan Tim Nasional Perancis saat mereka akan bertanding…

Jadi?
Plagiarisme dalam musik dengan ketentuan yang sudah jelas, 8 bar ke atas adalah jiplakan, amat sangat tidak bisa ditolerir. Bahkan seorang George Harrison pun harus berurusan dengan pengadilan saat dituding melakukan plagiat dalam lagu My Sweet Lord. Akan tetapi bagaimana dengan harga diri bangsa ini, yang untuk lagu-lagu sejak jaman perjuangan saja sukanya main comot? Bahkan, menurut Swaramuslim, upaya plagiat ini SENGAJA DILAKUKAN DEMI MEMBENDUNG DITEGAKKANNYA SYARIAT ISLAM!!!

2. Influence…
Seorang musisi sekalipun tentu punya idola, dan harus kita akui, bahkan musisi kaliber dunia pun kebanyakan di-influence oleh idolanya. Oasis nyata-nyata menyatakan ingin jadi the next The Beatles, Chris Martin menyanyi dengan gaya Jeff Buckley, dan Bono begitu mengidolakan The Ramones. Sementara Ahmad Dhani kabarnya banyak dipengaruhi musik Queen dan Led Zeppelin, Nidji mengakui sendiri kalau mereka terinspirasi musisi aliran Britpop macam Coldplay dan Keane.

Jadi, as long as menjiplaknya tidak lebih dari 8 bar ya tidak tergolong plagiat. Dan untuk urusan ini, produserlah yang punya wewenang. Produser tentunya punya trik-trik jitu, misalnya dengan membatasi hingga 7,5 bar saja yang mirip, sehingga tidak melanggar hak cipta, dan jika ada yang nyela, bilang saja “Oh, itu terinspirasi dari artis idola kami koq… Kami memang fans berat mereka… Anggap aja itu sebagai tribute buat mereka”.

3. “Kebetulan Mirip”
Ada satu pembenaran yang menarik oleh Eross, motor grup Sheila On 7. Ujarnya, “Beberapa not bisa saja sama, wong yang namanya nada kan cuma tujuh?”, jadi kemungkinan terjadi repetisi itu amat besar. Well, ada benarnya dan ada salahnya juga sih pernyataan ini. Kita tidak menutup kemungkinan kalau sebuah lagu kebetulan menggunakan melodi yang hampir mirip dengan lagu lain. Toh kita juga tidak mungkin mengecek setiap dari beribu judul lagu yang telah diciptakan manusia hanya untuk memastikan bahwa lagu yang mau kita ciptakan tidak memiliki kesamaan SAMA SEKALI dengan lagu manapun yang ada di dunia. Akan tetapi perlu kita cermati bahwa dari DO sampai TI, sebenarnya ada 12 NADA! (C C# D D# E F F# G G# A A# B), di mana untuk satu melodi sepanjang 8 bar, ada JUTAAN komposisi yang mungkin untuk diciptakan… belum dihitung penggunaan tempo yang berbeda. Tapi untuk alasan yang satu ini, saya tidak punya argumen untuk membantahnya, soalnya kesemuanya kembali ke soal hati nurani. Tak apalah kalau benar-benar, dalam proses kreatif mencipta lagu, ternyata menggunakan nada yang kebetulan sama dengan lagu lain, yang penting niatan saat bikin lagu memang bukan untuk “itu”.

Jadi alasan yang mana sih yang paling logis?

sumber: http://forum.detik.com/archive/index.php/t-40008.html
====================================================================================
Lagu Indonesia Raya Jiplakan Leka-Leka?

Sebelum KRMT Roy Suryo, polemik seputar lagu INDONESIA RAYA pernah digulirkan Yapi Tambayong alias Remy Silado di harian KOMPAS tahun 1991. Saya pernah membaca polemik itu dengan minat. Berkali-kali saya baca di perpustakaan Universitas Jember, Bumi Tegalboto, Jawa Timur. Perpustakaan besar ini ikut merangsang saya menjadi peminat buku.

“Wah, Pak Yapi ternyata hebat banget. Tahu banyak soal musik, punya begitu banyak data dan referensi,” kata saya waktu itu. Pak Yapi alias Remy Silado pun menjadi salah satu penulis musik dan bahasa idola saya. Tulisannya penuh warna, sarat data, tekun menelusuri peristiwa-peristiwa masa lalu.

Maka, ketika Roy Suryo mengaku ‘menemukan’ INDONESIA RAYA tiga stanza [bukan hal baru sebetulnya], awal Agustus 2007, saya langsung teringat tulisan-tulisan musik Remy Silado pada 1990-an. Sayang, saya tak punya kliping apa pun. Hanya mengandalkan ingatan yang terbatas.

Tapi, syukurlah, Selasa, 14 Agustus 2007, Yuli Ahmada menurunkan pendapat Remy Silado yang dipetik dari KOMPAS tahun 1991.

Menurut Remy, INDONESIA RAYA yang kita kena sebagai lagu kebangsaan kita sudah populer sejak abad ke-18 hingga tahun 1930-an. Bercorak jazz klasik, tegolong hot jazz. Judulnya: LEKKA-LEKKA atau PINDA-PINDA. Tetapi pada tahun 1927 lagu itu direkam dalam piringan hitam menjadi INDONEES-INDONEES.

Lantas, pada 28 Oktober 1928 dalam kongres pemuda di Jakarta diubah menjadi INDONESIA RAYA. “Penggubah lagu yang dimaksud adalah pemimpin band jazz di Makassar pada 1920. Siapa lagi kalau bukan Wage Rudolf Supratman,” tulis Remy.

Supratman muda memang biasa memainkan musik jazz untuk mengiringi orang Belanda berdansa-dansi. “Saban malam Minggu ia memainkan jazz bersama Kaerne.

Di KOMPAS, 5 Januari 1992, Remy Silado menulis lagi. Menurut dia, Supratman pernah menyurati Bung Karno sekaligus mengirim rekaman untuk diperdengarkan di kongres pemuda 1928. Kongres antusias, tetapi menyarankan agar nada-nada dan irama yang sama dengan LEKKA-LEKKA diperbaiki. Upaya perbaikan kemudian dilakukan beberapa kali.

Pada 1951 INDONESIA RAYA dibakukan atas inisiatif Jusuf Ronodipuro, kepala Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Jusuf meminta Jozef Cleber, pemusik Belanda, untuk menggubah lagu itu. Bung Karno setuju.

Pada 1953 komponis Kusbini berinisiatif membebaskan INDONESIA RAYA dari bayang-bayang LEKKA-LEKKA. Ia utarakan niat itu ke Bung Karno. Reaksi Bung Karno yang presiden? “Hai, kamu seniman goblok! Kamu tidak punya kesadaran politik. Apa yang sudah diterima secara politik tidak usah diperkarakan secara estetik,” tulis Remy.

Ia mengutip kesaksian Kusbini [penulis lagu BAGIMU NEGERI] kepada majalah TOP Nomor 29 Tahun IV. Remy juga mengutip keterangan Salamoni, dirigen Orkes Harmoni Kepolisian Semarang, kepada SINAR INDONESIA, 14 Agustus 1963. Salamoni mengatakan, ada delapan bar (birama) di LEKKA-LEKKA plat 78 Fono 2132, Euro, yang sama dengan INDONESIA RAYA.

Remy tak lupa mengkritik lagu IBU KITA KARTINI karangan W.R. Supratman yang juga mencontek lagu rakyat Minahasa, O INA NI KEKE, dan lagu rakyat Timor, BOLELEBO. “Perhatikan ada delapan bar yang diulang jadi 16,” tulis Remy.

Menurut dia, kedua lagu rakyat yang sangat terkenal itu pun aslinya dari lagu Portugis:

Haja Luz:
E disse Deus,
O, haja luz,
O haja luz
e houve luz.

Tulisan Remy Silado mendapat sanggahan dari Kaye A. Solapung, pengamat musik. Di KOMPAS 22 Desember 1991, Solapung mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada 1950-an.

“Dalam literatur musik ada lagu PINDA-PINDA LEKKA-LEKKA di Negeri Belanda, begitu pula BOOLA-BOOLA di Amerika Serikat,” tulis Solapung mengutip Amir Pasaribu.

Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu, dibandingkan dengan Indonesia Raya. Menurut Solapung, lagu BOOLA-BOOLA tidak sama persis dengan Indonesia Raya. Hanya delapan ketuk yang sama. “Jadi, INDONESIA RAYA itu bukan karya jiplakan,” tegas Solapung.

sumber : http://hurek.blogspot.com/2007/08/remy-silado-soal-indonesia-raya.html
====================================================================================
Sedikit tentang Indonesia Raya

Gara-gara KMRT Roy Suryo, lagu kebangsaan Indonesia Raya kembali jadi polemik di media massa. Sayang sekali, polemik kali ini kurang bermutu karena bahan yang disodorkan Pak Roy mentah nian. Tidak ada yang baru.

Saya justru heran kenapa orang sekaliber Roy Suryo, pakar yang bolak-balik masuk koran, bicara di televisi, baru tahu bahwa Indonesia Raya itu sejatinya ada tiga stanza. Setahu saya, semua anak sekolah dasar di Indonesia pernah membaca kisah sejarah Indonesia Raya–selalu dikaitkan dengan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Di situ disebutkan bahwa Indonesia Raya memang ada tiga stanza. Pada masa penjajahan, kata ‘merdeka’ sengaja disensor karena penjajah tentu tidak sudi dengar. Bahwa cara membawakan, ekspresi… Indonesia Raya ada perubahan, ya, kita semua tahu. Bahwa Presiden Sukarno bikin tim penggubah Indonesia Raya, pun sudah banyak ditulis.

Lalu, apa yang baru dengan isu yang diangkat Roy Suryo? Tidak ada. “Yang baru itu, ya, Roy Suryo ternyata baru tahu kalau Indonesia Raya itu ada tiga stanza. Juga beberapa kali revisi…,” kata teman saya. “Nggak ada mutunya polemik versi Roy Suryo,” tambah sang kawan di Surabaya.

Yah, polemik tak penting, buang-buang waktu saja. Tapi dibahas di koran-koran, televisi, internet, hanya karena yang bicara itu seorang Roy Suryo. Tak apa-apalah. Dengan polemik ini, semua orang ramai-ramai cari bahan, referensi, wawancara sumber sejarah yang tepat, agar kisah seputar Indonesia Raya menjadi lebih akurat.

Apa pun kata orang, yang jelas, status Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan sudah final dan mengikat. Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945 secara jelas menyebutkan bahwa lagu kebangsaan kita Indonesia Raya.

Saat saya masih remaja bau kencur, tahun 1990-an, polemik seputar Indonesia Raya sudah muncul di surat kabar. Isu yang diangkat waktu itu, antara lain oleh Remy Silado, adalah ‘kemiripan’ alur melodi Indonesia Raya dengan lagu rakyat Eropa, kalau tak salah ‘Leka-Leka’. Remy, wartawan kawakan, penulis ulung, musikolog, munsy, mengupas habis struktur lagu Indonesia Raya.

Polemik ini benar-benar menambah pengetahuan masyarakat seputar Indonesia Raya. Sebab, tulisan Remy Silado lantas diikuti tulisan penulis lain yang sama-sama pakar dan mengandalkan bahan dan referensi bermutu. Apa yang ditulis Remy dan beberapa musikolog, waktu itu, benar-benar informasi baru. Segar. Masyarakat pun senang mengikutinya.

Lha, kalau polemik menjelang 17 Agustus 2007 ini diangkat KRMT Roy Suryo yang bukan pakar musik. Referensi musiknya minim sehingga bisa dengan mudah disanggah para sesepuh macam Pak Des Alwi. “Tidak ada yang baru dalam temuan Roy. Sebab, dokumen aslinya masih saya simpan,” kata Pak Des Alwi.

Pak Urip Sudarman, keponakan W.R. Supatman, Jalan Dharmahusada Indah V Blok F/204 Surabaya, terkejut dengan klaim Roy Suryo. Pak Urip ini sejak dulu jadi referensi para wartawan di Surabaya kalau bicara soal Indonesia Raya dan W.R. Supratman. Pada saat makam W.R. Supratman direnovasi, juga Museum W.R. Supratman di Jalan Mangga 21 Surabaya diresmikan, saya pun pernah membuat tulisan bersambung tentang Indonesia Raya dan W.R. Supratman.

Inti tulisan, sejak dulu sampai sekarang, ya, sama saja. Bagaimana tidak. Sumbernya sama, data-data sama, semua sama. Jadi, membaca tulisan panjang lebar di koran-koran Surabaya, merespons isu Roy Suryo, saya hanya ketawa-ketawa saja karena tidak ada yang baru. Teman-teman wartawan, ya, kembali menemui sumber-sumber saya yang dulu.

“Kalau kita mau jujur, sejak dulu memang tidak ada yang baru dalam pemberitaan. Apa yang kita tulis hari ini sebetulnya pernah ditulis wartawan-wartawan dulu. Bedanya, ya, tipis-tipis saja dan akan selalu berulang,” kata Adi Sucipto, kawan wartawan KOMPAS di Surabaya.

Meski direvisi beberapa kali, inti lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman itu masih sama saja. Menggunakan tempo marcia alias kecepatan menyanyi sama dengan orang berbaris. Sebagai bekas pelatih paduan suara, saya tahu sedikit banyak tahulah istilah-istilah musik vokal dan bagaimana harus menerapkannya saat menyanyi.

Indonesia Raya itu bertempo cepat, mars. Metronom Malzel [M.M.] untuk lagu mars bertempo cepat ini berkisar 120 hingga 169. Maksudnya: dalam satu menit ada 144-169 ketukan. Karena itu, betul kata Roy Suryo, lagu dinyanyikan dengan heroik, cepat, penuh semangat.

Con bravura! Ini tanda ekspresi [bukan tempo] bahwa lagu itu dibawakan dengan semangat menggelora. Salah kalau Roy menyebut ‘con bravura’ sebagai jenis tempo. Temponya, ya, tetap mars atawa ‘tempo di marcia’.

Nah, setelah direvisi oleh tim bentukan Bung Karno, tempo Indonesia Raya diturunkan menjadi sekitar M.M. 120. Aransemen garapan Jozef Cleber, komponis dan dirigen orkes simfoni terkenal di Jakarta pada awal kemerdekaan, menjadikan Indonesia Raya lebih gagah dan megah. Elegan! Lagu tetap semangat, tapi tidak tergesa-gesa macam aransemen versi era Jepang dulu.

Ada bagian yang dibuat maestoso [hormat, megah] pada :

hiduplah tanahku,
hiduplah negeriku,
bangsaku rakyat semuanya
bangunlah jiwanya
bangunlah badannya
untuk Indonesia Raya

Bagian ini dibawakan lebih lirih, volume diturunkan, dan mengalir alias legato. Nada-nada dirangkaikan, sehingga terasa bak alunan gelombang. Kalau anda pernah ikut kursus atau pelatihan dirigen/konduktor paduan suara, tentu apa yang saya gambarkan di sini sangat mudah dipahami.

Kontras kemudian terjadi di refrein atawa ulangan atawa chorus. Di sini dipakai fortessimo [ff]. Volume suara atau alat musik sangat keras. Efek menggelegar sangat terasa karena Jos Cleber menyertakan timpani di bagian ini.

Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka!
Tanahku negeriku, yang kuncinta
Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya

Addie M.S. bersama orkestranya, Twilite Orchestra, saya nilai sangat berhasil menampilkan aransemen Indonesia Raya yang sangat hidup sesuai dengan keinginan Bung Karno. Lihat saja ketika tim nasional Indonesia tampil di Piala Asia, Jakarta, beberapa pekan lalu. Semua pemain dan penonton [juga penonton televisi di rumah] bisa merasakan kegagahan lagu Indonesia Raya hasil gubahan Jos Cleber.

Aransemen sama, lagu sama, tapi di tangan Addie M.S. dan Twilite Orchestra berasa lain. Beda sekali dengan rekaman lama yang dimainkan orkes lain.

Indonesia Raya memang lagu kebangsaan yang lahir dari perut sejarah perjuangan Indonesia. Karakternya memperlihatkan bahwa nyanyian kebangsaan itu benar-benar lagu perjuangan. Heroik. Berapi-api. Tekad baja untuk merdeka. Bukan himne sentimental memuji raja atau ratu tertentu.

Itulah yang membedakan Indonesia Raya dengan lagu kebangsaan di beberapa negara Eropa macam Inggris, Belanda, Jerman, Malaysia. Kebetulan saya sangat menguasai melodi lagu kebangsaan dari empat negara ini. Lagu kebangsaan Malaysia malah mengadopsi ‘Terang Bulan Terangnya di Kali’ yang sangat populer di Indonesia. Diganti syairnya, jadilah lagu kebangsaan Malaysia.

Lantas, apa kelemahan Indonesia Raya?

Pertama, rentang nada tergolong sangat lebar. Ditulis pakai nada dasar G [satu #], nada terendah A [la rendah], nada tertinggi e [mi tinggi]. Bandingkan saja dengan God Save the Queen [Inggris] yang ambitusnya sedikit, temponya moderato, sehingga gampang dinyanyikan suporter bola di Inggris kapan saja.

Saat memimpin paduan suara pelajar, mahasiswa, atau umum, saya selalu merasakan bahwa tidak semua penyanyi bisa membidik nada dengan tepat. Di bagian awal, sopran dan tenor sulit menjangkau nada rendah. Di bagian refrein, giliran bas dan alto yang pusing menghadapi nada tinggi. Asal tahu saja, rata-rata orang Indonesia bersuara sedang alias bariton [laki-laki] dan meso-sopran [perempuan].

Repotnya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958, Indonesia Raya hanya boleh dinyanyikan secara unisono alias satu suara. Tidak boleh bikin aransemen vokal empat suara, tiga suara, dua suara, dan sebagainya. Ini aturan yang wajib kita ikuti.

Karena terlalu tinggi di refrein, dan terlalu rendah di insetting [nada awal], maka hampir semua orang Indonesia kesulitan mengambil nada untuk nyanyian a capella [tanpa musik]. Bisa saya pastikan, nada dasarnya pasti jauh di bawah G mayor. Nah, karena nadanya sangat rendah, ya, Indonesia Raya tidak bisa dinyanyikan.

Ada juga kasus di mana dirigen tertentu ‘ambil suara’ terlalu tinggi. Siapa yang bisa menyanyikan dengan baik? Hanya paduan suara dengan dirigen terlatih. Sekali lagi, Indonesia Raya punya tingkat kesulitan tinggi.

Kedua, Indonesia Raya tergolong sangat panjang dibandingkan lagu kebangsaan negara-negara lain. Padahal, kita hanya menyanyikan satu stanza. Apa jadinya jika semua [tiga] stanza itu dinyanyikan? Karena panjang sekali, Indonesia Raya kerap ‘disunat’ di event-event olahraga Asia Tenggara, Asia, atau Olimpiade.

Ketika Susi Susanti dan Alan Budikusumah meraih emas Olimpiade, Indonesia Raya tidak ditampilkan utuh. Begitu juga saat Taufik Hidayat memenangkan emas olimpiade. Panitia setempat rata-rata mengeluh karena lagu yang panjang hanya makan waktu saja.

Ketiga, karena struktur melodi, irama, tempo… karakternya, Indonesia Raya tidak bisa dinyanyikan dengan santai. Bandingkan dengan Inggris yang lagu kebangsaannya sangat santai, meski maestoso, dinyanyikan setiap saat di stadion bola atau di mana saja.

Atau, lagu kebangsaan Amerika Serikat yang bisa dibawakan dalam berbagai gaya. Perhatikan siaran langsung tinju yang melibatkan petinju USA. Hampir pasti lagu kebangsaan dibawakan ala soul, black music, pop, dan sebagainya. Sangat tidak resmi! Indonesia Raya tidak bisa begitu!

MAAV SAYA INGIN SHARE AJ SAMA KALIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: